Friday, March 20, 2015

RUN FOR LEPROSY 2015


Nama: Ruben Abram
NIM: 1801377793
Nomor peserta lari: 6920
Jurusan: Sistem Informasi

KESAN DAN PESAN SEBAGAI PELARI :

  Pada hari Minggu, 15 Maret 2015, saya mengikuti charity event Run for Leprosy yang diselenggarakan oleh Teach for Indonesia dan didukung oleh Binus University. Saya mengikuti acara ini bersama dengan 8 teman saya. Ini merupakan yang kedua kalinya saya mengikuti acara seperti ini. Saya merasa sangat senang bisa mengikuti acara Run for Leprosy ini. Saya pernah mempunyai keinginan untuk bisa menikmati suasana Alam Sutera pada saat pagi-pagi sekali dan keinginan saya tercapai setelah mengikuti acara Run for Leprosy ini. Ini merupakan pengalaman berharga yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya karena saya bisa beramal bersenang senang serta bercanda tawa dengan teman-teman saya.

 Saya bangun pagi pada pukul 05.00 untuk mulai bersiap-siap datang ke tempat acara. Saya keluar dari apartemen tempat saya pada pukul 05:40 dan sampai di Universitas Bina Nusantara pada pukul 5:45. Sesampainya di Universitas Bina Nusantara, saya menempelkan BIB (nomor dada) yang harus ditempel sebelum kami mulai berlari. Ketika selesai menempelkan BIB saya berjanjian untuk berkumpul bersama teman-teman saya di depan Universitas Bina Nusantara sebelum acara lari mulai.
 
               
Sesampainya di tempat acara saya melihat begitu banyak orang yang sudah datang menandakan mereka sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Saya juga melihat banyak stand sponsor di area Binus University. Acara lari untuk rute 5K dimulai pada pukul 06:15. Saya dan teman-teman saya pun mulai berlari sekuat tenaga untuk bisa mencapai garis finish. Di tengah rute kami berlari, kami diberikan minuman untuk mengembalikan cairan tubuh kami yang hilang karena keringat sebelum kembali berlari. Dan akhirnya saya bisa mencapai garis finish . Setelah saya mencapai garis finish, saya diberikan medali sebagai tanda telah menyelesaikan rute yang diberikan dan sebuah pisang serta minuman pengganti ion tubuh. Setelah mencapai garis finish saya dan teman-teman saya pun istirahat sejenak dan menikmati acara yang ada di panggung , yang berupa senam dan mendengarkan musik yang diputar disana.


Pesan saya kepada panitia mungkin untuk menyediakan tempat sampah yang lebih memadai di lokasi acara berlari, karena saya melihat banyak sampah berserakan akibat tempat sampah yang kurang memadai, sehingga jadi kurang sedap dipandang mata atau diperbanyak panitia di sekeliling rute berlari untuk mengingatkan peserta untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi saya melihat secara keseluruhan kerja panitia sudah cukup baik dalam menyelenggarakan acara ini sehingga acara ini bisa berjalan dengan cukup baik.
 PENGETAHUAN TENTANG KUSTA

  Penyakit kusta atau juga dikenali sebagai penyakit Hansen dan juga Leprosy, merupakan penyakit berjangkit yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Nama penyakit Hansen datang daripada orang yang menjumpai Mycobacterium leprae, G.A.Hansen. Pengidap penyakit Hansen biasanya dipanggil pesakit kusta atau dalam bahasa Inggeris lepers, walaupun penggunaan istilah lepers semakin ditinggalkan kerana jumlah pesakit yang berkurangan dan sebagai mengelak stigma buruk yang dikaitkan dengan pesakit kusta.
Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar. Bila tidak ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata. Tidak seperti mitos yang beredar di masyarakat, kusta tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh yang begitu mudah, seperti pada penyakit tzaraath.
Penyakit kusta merupakan penyakit yang ditandai dengan gejala infeksi kronis yang terjadi pada jaringan saraf dan juga kulit. Penyebab penyakit kusta ini adalah karena Mycobacteriym leprae. Basil yang ditemukan dari penyakit kusta atau lepra ini mirip dengan basil pada penyakit TBC, berupa ulet yang banyak mengandung lilin yang sulit untuk ditembus oleh obat, dan ulet ini juga tahan akan asam dan pertumbuhannya juga agak lebih lama.
Kelompok Kerja WHO melaporkan Kemoterapi Kusta pada 1993 dan merekomendasikan dua tipe terapi multiobat standar. Yang pertama adalah pengobatan selama 24 bulan untuk kusta lepromatosa dengan rifampisin, klofazimin, dan dapson. Yang kedua adalah pengobatan 6 bulan untuk kusta tuberkuloid dengan rifampisin dan dapson. Sejak 1995, WHO memberikan paket obat terapoi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementrian Kesehatan. Strategi ini akan bejalan hingga akhir 2010. Pengobatan multiobat masih efektif dan pasien tidak lagi terinfeksi pada pemakaian bulan pertama. Cara ini aman dan mudah. jangka waktu pemakaian telah tercantum pada kemasan obat.


Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa kanak-kanak.



Meskipun cara penularannya yang pasti belum diketahui dengan jelas, penularan di dalam rumah tangga dan kontak/hubungan dekat dalam waktu yang lama tampaknya sangat berperan dalam penularan kusta.Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah melalui sekresi hidung, basil yang berasal dari sekresi hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam. Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.

Tanda-tanda seseorang menderita penyakit kusta antara lain, kulit mengalami bercak putih, merah, ada bagian tubuh tidak berkeringat, rasa kesemutan pada anggota badan atau bagian raut muka, dan mati rasa karena kerusakan syaraf tepi. Gejalanya memang tidak selalu tampak. Justru sebaiknya waspada jika ada anggota keluarga yang menderita luka tak kunjung sembuh dalam jangka waktu lama. Juga bila luka ditekan dengan jari tidak terasa sakit.

Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk seperti tempat tidur yang tidak memadai, air yang tidak bersih, asupan gizi yang buruk, dan adanya penyertaan penyakit lain seperti HIV yang dapat menekan sistem imun. Pria memiliki tingkat terkena kusta dua kali lebih tinggi dari wanita.

Komitmen Saya terhadap Kusta :

  1. Saya akan selalu mendukung program - program yang dilakukan oleh organisasi - organisasi untuk membantu teman - teman kita yang terkena penyakit kusta.
  2. Saya akan berusaha mengurangi beban dan penderitaan penderita kusta dengan berbagai usaha dan aksi nyata.
  3. Kita tidak seharusnya membiarkan mereka yang diluar sana terjangkit penyakit kusta semakin menderita dan tidak ada yang mempedulikan mereka, kita harus memulai aksi seperti acara Run For Leprosy ini untuk membantu meringankan penderitaan mereka.
  4. Saya akan berusaha untuk mensosialisasikan penyakit ini kepada orang - orang yang belum mengetahui lebih jelas lagi tentang penyakit ini, sehingga dapat lebih mengetahui dan bisa membantu mereka yang terjangkit penyakit kusta.
  5.  Saya akan mendukung segala jenis kegiatan yang bertujuan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena penyakit kusta. 
  6. Saya akan berusaha membuang stigma buruk mengenai penyakit kusta yang ada di masyarakat. 
  7.  Memberi semangat kepada mereka yang terkena penyakit kusta untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. 
SARAN SAYA MENGENAI SOSIALISASI YANG BAIK TERHADAP PENYAKIT KUSTA


  1. Tentunya dengan menyelenggarakan lebih banyak lagi acara seperti Run For Leprosy ini, ditambah dengan ide - ide yang menarik sehingga kita dapat meringankan beban mereka yang terkena panyakit ini. Dengan memberikan mereka perhatian dan bantuan yang cukup, menurut saya itu sangatlah berarti untuk mereka.
  2. Selain itu, dapat juga diadakan seminar pengetahuan penyakit kusta juga, baik terhadap orang - orang yang belum tahu, ataupun orang - orang yang terkena penyakit itu sendiri. Kita harus mengajarkan bagaimana mereka dapat tetap berkontribusi dalam kemasyarakatan, bukan semakin terpuruk dimakan waktu.
  3. Pemerintah dan berbagai organisasi harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit kusta sehingga masyarakat tidak berpandangan buruk terhadap penyakit kusta. 
  4. Perlu diadakan kegiatan-kegiatan positif seperti Run for Leprosy dalam rangka membantu saudara-saudara kita yang terkena penyakit kusta












No comments:

Post a Comment